Perusda
Bank SUlsel Bar

Aksi Kampanye Peringati 25 Tahun Kematian Marsinah

on 5/8/18 Oleh Anugerah Abadi
Aksi Kampanye Peringati 25 Tahun Kematian Marsinah
AKSI kampanye memperingati 25 tahun kematian Marsinah (1993-2018)

AKSI kampanye memperingati 25 tahun kematian Marsinah (1993-2018) yang di peringati di Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 8 Mei pukul 9 malam tadi yang berujung tindakan represif oleh pihak Satpol-PP dan pihak kepolisian. 

Dimana aksi mahasiswa dan buruh yang tergabung dalam aliansi "Gerak Rakyat Untuk Buruh" yang melakukan beberapa varian aksi berupa bakar lilin dan aksi bisu yang berujung pembubaran terhadap massa aksi dan juga mengambil aksesoris aksi yaitu spanduk kampenya. 

Tuntutan aksi kampanye tersebut yaitu usut tuntas kasus pembunuhan Marsinah dan kasus pelanggaran HAM lainnya.

 Marsinah adalah buruh perempuan yang bekerja pada PT. Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari. Mayatnya ditemukan di hutan di dusun Jegong, desa Wilangan dengan tanda-tanda bekas penyiksaan berat. 

Marsinah lahir di Nglundo, 10 April 1969 – meninggal 8 Mei 1993 pada umur 24 tahun, merupakan aktivis buruh pada zaman orde baru yang di temukan meninggal setelah mempertanyakan kenaikan gaji para karyawan tempat dia bekerja.

Aksi kampanye ini juga merupakan pengambilan sikap oleh massa aksi melihat banyaknya tindakan pelanggaran HAM yang terjadi di berbagai sektor masyarakat belakangan ini. Sektor buruh Seperti kasus PHK sepihak yang dilakukan oleh PT. Pertamina Patra Niaga terhadap 141 awak mobil tangki seluruh Indonesia dimana tidak ada kejelasan yang di berikan oleh pihak perusahaan terkait PHK yang di berikan kepada awak mobil tangki tersebut. 

Di sektor jurnalistik sendiri, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat pada Mei 2017-Mei 2018 tercatat sedikitnya ada 75 kasus kekerasan terhadap jurnalis, dan Makassar menjadi penyumbang terbanyak dengan 5 kasus. Bandung dan Menado masing-masing 4 kasus dan di ikuti daerah lainnya, kekerasan ini berupa kekerasan fisik, penikaman, ancaman pemukulan, teror, dan pengrusakan alat liputan, dan banyak lagi kekerasan pada jurnalis yang belum terekspos.

Pelanggaran HAM lainnya di sektor agraria, seperti yang menimpa petani Temon dan relawan yang di kriminalisasi karna melakukan protes terhadap pembangunan Bandara New Yogyakarta Internasional Airport (NYAI) Kulon Progo, Yogyakarta, dimana pembangunan bandara tersebut meresahkan warga dengan mengambil secara paksa lahan dan menggusur rumah-rumah penduduk, dan juga kasus penembakan terhadap 2 orang warga pesisir pantai Marosi, Desa Patiala Bawah, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, mengakibatkan Porodukka, 40 tahun meninggal dunia setelah peluru menembus dadanya, Matidukka yang juga di tembak di kedua kakinya yang membuatnya di larikan ke Rumah sakit. 

Mereka berdua di tembak tanpa alasan yang jelas oleh aparat yang tidak bertanggung jawab, dan juga lebih dari 10 orang warga yang juga ikut di kriminalisasi karna mempertahankan ruang hidup merekai menolak investasi pariwisata oleh PT. Sutra Marosi yang tidak memili legalitas yang jelas. 

Sektor Mahasiswa sendiri mencatat  banyaknya pelanggaran HAM, mulai dari kekerasan akademik, pelecehan, dan mahasiswa yang di skorsing sampai drop out secara sepihak oleh birokrasi kampus. 

Contohnya yang terjadi di Universitas Muslim Indonesia, dua mahasiswa Hukum UMI di skorsing oleh pihak birokrasi kampus karna mempertanyakan transparansi anggaran oleh pihak fakultas. 

Belum lagi di kampus lainnya, seperti yang terjadi di Universitas Sriwijaya, dimana mahasiswa yang kritis melihat persoalan UKT yang setiap tahun semakin mahal dan mereka melakukan aksi unjuk rasa di dalam kampus Unsri tapi kemudian mereka di represif dan ada beberapa mahasiswa yang di pukuli oleh aparat keamanan kampus dan juga kepolisian. 

Ini memperlihatkan bahwa peran  aparat yang bertujuan mengayomi masyarakat, dan sebagai pelindung hak asasi manusia, ini kemudian sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai tersebut. dimana aparat negaralah yang menjadi aktor utama dalam mengambil peran sebagai perampas Hak Asasi Manusia di setiap sektor elemen masyarakat.

Oleh: Anugrah Abadi